Sahabat Penaku

Berbagi Tulisan Bermanfaat

Sinopsis Dibawah Lindungan Ka’bah

Sinopsis Dibawah Lindungan Ka’bahSinopsis Dibawah Lindungan Ka’bah – Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah sebuah novel sekaligus karya besar sastra klasik Indonesia yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau orang  lebih dikenal dengan Hamka. Novel ini diterbitkan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda.

Ada pun Sinopsis Dibawah Lindungan Ka’bah atau gambaran dari isi cerita Dibawah Lindungan Ka’bahadalah sebagai berikut

Sinopsis Dibawah Lindungan Ka’bah

Judul         : Dibawah Lindungan Ka’bah
Penulis     : Hamka
Tahun         : 1938

Di kisah kan Seorang pemuda bernama Hamid, sejak kecil berumur empat tahun telah ditinggal mati oleh  ayahnya. Dan Ayah Hamid pada mula nya ialah seorang yang kaya. Karena itu banyak sekali sanak saudara dan teman teman nya . Tetapi setelah usaha perniagaanya hancur dan jatuh miskin , tak ada lagi sanak saudara dan sahabatnya yang datang . di Karenakan dia menjadi miskin dan sudah tak terpandang lagi , maka pindahlah ayah Hamid beserta ibunya ke kota Padang, yang akhirnya dibuatnya sebuah rumah kecil. Di rumah kecil  itulah ayah Hamid meninggal.

Tatkala Hamid berumur enam tahun, Hamid ingin membantu ibunya  maka ia meminta  ibunya agar dibuatkan jualan kue-kue untuk dijajakan oleh nya setiap pagi.

Di dekat rumah hamid terdapat sebuah gedung besar dengan halaman rumah yang sangat luas. namun Rumah itu telah kosong karena pemiliknya, seorang Belanda, telah kembali ke negerinya. Hanya penjaganya yang masih tinggal, yakni seorang laki-laki tua yang bernama Pak Paiman. Tetapi tak lama kemudian, rumah itu dibeli oleh seorang-orang kaya yang bernama Haji Jakfar. Isterinya bernama Mak Asiah dan anaknya hanya seorang perempuan saja yang bernama Zainab.

Hampir Setiap hari Hamid dipanggil oleh Mak Asiah karena hendak membeli makanan yang dijualnya itu. Pada waktu itu juga ia ditanya oleh Mak Asiah tentang orang tuanya dan tempat tinggalnya. Setelah Hamid menjawab pertanyaan itu, Mak Asiah pun meminta kepada Hamid agar ibunya datang ke rumahnya. Sejak kedatangan ibu Hamid ke rumah Mak Asiah itulah, maka persahabatan mereka itu menjadi karib dan Hamid beserta ibunya sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.

Ketika Hamid beranjak  tujuh tahun, ia pun di sekolahkan atas biaya Haji Jakfar yang baik hati itu bersama-sama anaknya, Zainab, yang mana umurnya lebih muda daripada Hamid. Pergaulan Hamid dengan Zainab, seperti pergaulan antara kakak dengan adik saja. Setelah tamat dari SD, Hamid dan Zainab pun sama-sama dilanjutkan sekolahnya ke Mulo.

Setelah keduanya tamat dari Mulo, barulah Hamid berpisah dengan Zainab, karena menurut adat Zainab harus masuk pingitan, sedang Hamid yang masih dibiayai oleh Haji Jakfar, meneruskan pelajaran ke sekolah agama di Padang panjang. Di sekolah itulah Hamid mempunyai seorang teman laki-laki yang bernama Saleh.

Pada suatu petang, tatkala Hamid pergi berjalan-jalan di pesisir, bertemulah ia dengan Mak Asiah yang baru datang dari berziarah ke kubur suaminya. Ia naik perahu sewaan bersama-sama dua orang perempuan tua lainnya. Pada pertemuan itulah Mak Asiah mengharapkan kedatangan Hamid ke rumahnya pada keesokan harinya, karena ada suatu hal penting yang hendak dibicarakannya. Setelah Hamid datang pada keesokan harinya ke rumah Mak Asiah, maka Hamid pun dimintai tolong oleh Mak Asiah agar ia mau membujuk Zainab untuk bersedia dinikahkan dengan kemenakan Haji Jakfar yang pada waktu itu masih bersekolah di Jawa. Tetapi permintaan itu ditolak oleh Zainab dengan alasan ia belum lagi hendak menikah.

Penolakan itu sebenarnya disebabkan Zainab sendiri telah jatuh cinta kepada Hamid. Bagi Hamid sendiri, sebenarnya ia cinta kepada Zainab, hanya cintanya itu tidak dinyatakan berterus terang kepada Zainab. Karena itulah, sebenarnya suruhan Mak Asiah itu bertentangan dengan isi hatinya. Tetapi karena ia telah berhutang budi kepada Mak Asiah, maka dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kejadian itu Hamid pun pulang ke rumahnya, tetapi sejak itu, ia tidak pernah lagi datang ke rumah Mak Asiah, karena sejak itu ia meninggalkan kota Padang menuju Medan dan selanjutnya pergi ke tanah Suci Mekah. Dari Medan Hamid berkirim surat kepada Zainab untuk minta diri pergi menurutkan kemana arah kakinya berjalan. Surat Hamid itulah yang selalu mendampingi Zainab yang dalam kesepian itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Oktober 2016 by in artikel and tagged , .

Navigasi

%d blogger menyukai ini: